Tampilkan postingan dengan label Persib Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persib Bandung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Maret 2014

RIVALITAS SEMU

Ilustrasi/Admin (Tribunnews.com)
Ilustrasi/Admin (Tribunnews.com)
Jangan tanyakan seberapa besar rivalitas kedua klub ini bila bertanding, sejak awal tahun 2000 sampai detik ini rivalitas klub Persija dan Persib selalu tinggi tak terlebih dengan gesekan para fans kedua kubu, sampai ada yang melabeli laga ini dengan d’classico Indonesia padahal bila ingin mengulas tentang rivalitas kedua klub ini tak lebih besar dari pada pertandingan antara persib lawan PSM atau Persib lawan PSMS Medan, bahkan tak lebih besar dari laga Persib lawan PSIS Solo di masa lalu.
Kadang saya  tertawa lucu ketika media-media mengibaratkan laga kedua ini seperti derby luar negeri seperti Barca vs Madrid  yang mempunyai rivalitas abadi padahal hanya sebuah pertandingan biasa, kenapa saya bilang begitu?Dan mengapa aura pertandingan kedua klub ini selalu booming?? sebelum saya jawab ke sana harus saya jelas kan awal mulanya sejarah kedua klub ini.
Sejarah mencatat pertandingan yang mempertemukan klub dari bandung dan jakarta berlangsung tahun 1902 di lapang Pieters Park ( sekarang Balai Kota) dan saat itu yang unik kedua pertandingan ini di lakukan oleh satu klub yang sama yaitu BVC (bataviase voetbal club) yang melawan BVC cabang bandung dan hasil petandingan itu di menang kan BVC Jakarta dengan skor 2 - 0 dan 12 - 0 di laga selanjutnya, dengan kekalahan telak di laga kedua tersebut lah para pemuda di bandung terlecut untuk membentuk klub dan akhir nya berdiri klub baru bernama Uitpaning Na Ispaning lebih di kenal dengan nama UNI, dalam perkembangannya UNI menjadi klub yang besar dan menantang klub besar besar di jakarta seperti sparta dan hercules pada saat itu mejadi klub besar.
Di akhir tahun 1920-an bermunculan klub klub yang di didirikan oleh para pribumi dan klub klub milik belanda ini mulai tersaingi oleh klub pribumi ini dan pada tahun 1923 berdiri Bandoeng indonisische voetbal bond (BIBV) inilah cikal bakal terbentuk nya persib di tahun 1933 dan pada tahun 1928 muncul voetbal indonisische jacatra ( VIJ ) dan dengan bond lain nya pada tahun 1930 membentuk organisasi yang sekarang di kenal pssi.
Di awal 1930-an hubungan VIJ dan Persib sebenarnya mempunyai hubungan yang sangat baik karena pucuk pimpinan kedua klub itu yaitu MH Thamrin mewakili VIJ dan Otto Iskandardinata yang mewakili persib sering menggelar laga persahabatan. dan juga harus di garis bawahi di awal dekade terebut format kompetisi yang tiap regional saja masuk final dan VIJ dan persib masuk satu wilayah maka ketika salah satu klub ini masuk final maka dukungan kepada siapa saja yang masuk final selalu di berikan. dan pada saat itu harus di luruskan sebenar nya rival persib adalah persis solo dengan gesekan antara pendukung,pengurus dan juga pemain selalu ramai di mulai dengan kalah nya persib di bandung oleh persis tahun 1936 di balas persib dengan mengalahkan persis di stadion sriwedari 2-1 yang menghasilkan juara pertama kali nya untuk persib.
Di dekade 40 dan 50 kegiatan sepakbola di Indonesia sempat terhenti dan di masa ini VIJ berganti mana menjadi persija setelah melebur dengan klub milik belanda VBO namun sayang di awal berdiri nya persija mayoritas pemain nya para londo atau para pemain belanda. dan dimasa ini pun persib dan VIJ yang berganti nama menjadi persija masih memiliki hubungan harmonis dengan perpindahan pemain yang  tak pernah ada sengketa ataupun yang lain jadi pemain bintang persib seperti Fredy Timisela, Kweet,  Kiat Sek,  Fatah Hidayat dan Thio Him Tjiang adalah binaan Persija dan begitu pun sebalik nya seperti halnya perpindahan Soejipto Soentoro dan juga Komar yang notabenenya legenda Persija pernah berbaju persib dan pada tahun 50-an Persib menjadi salah satu klub besar mulai di pupuk dan menjadi saingan gelar juara di kompetisi indonesia bersama psm makassar dan di sini lah mulai lahir nya rivalitas antara persib dan psm dan persija pada tahun yang sama prestasi nya menurun maka pada saat itu saingan dan rivalitas persib adalah psm bukan lah persija, masa itu psm menjadi klub terbaik di indonesia dengan dengan ramang nya dan gelar juara 2x berturut-turut diambil oleh psm namun 1961 dominasi itu di patahkan oleh Persib dengan menjadi kampiun.
Dimulai lah persaingan Persib dan PSM dengan puncaknya tahun 1961 Stadion Mattoangin yang memiliki kapasitas 20.000 di paksa menjadi 50.000 dan menjadi jumlah penonton terbanyak di kawasan Indonesia Timur, dan di tahun 30-an s/d 60-an cuma Persisdan PSM yang menjadi rival terberat Persib. Bagaimanadengan Persija?? Persija dan Persib di masa itu masih harmonis dan saling mendukung. Jadi, kapankah rivalitas persib dan persija mulai??  Bila membicarakan rivalitas kedua klub ini kadar rivalitas kedua klub ini sebenar nya cuma laga yang biasa karena dari sejarah kompetisi ini berdiri sampai partai final di hilang dengan mengubah konsep liga satu wilayah dan pemenang nya adalah peringkat satu rivalitas terjadi ketika tim tim ini bertemu di final seperti contoh Persib Vs PSIS, Persib Vs PSM dan juga Persib Vs PSMS yang menghancur kan hegemoni persib di tahun 83 dan 85 sama hal nya dengan Persib Vs Persebaya di tahun 90 dengan kemenangan Persib di kandang Persebaya dengan skor 2-1 membuat rivalitas klub klub yang di sebutkan sering memanas, bagaimana dengan Persija??
Sejarahnya Persib dan Persija belum pernah bertemu di final karena ketika masa jaya Persib awal tahun 30-an sampai 60-an prestasi Persija menurun dan sama halnya di tahun 70-an ketika Persija sedang berjaya, prestasi Persib menurun sampai akhirnya laga Persib dan Persija cuma berlabel laga biasa karena pada mas nya keduanya belum pernah bertarung di final,dan salah satu nya yang bisa di bilang rivalitas kedua klub ini tak pernah besar seperti Persib dengan PSM,PSIS,PSMS dan Persebaya. Karena faktor pendukung Persija yang tak mayoritas sebelum awal 2000-an walaupun punya prestasi Persija belum bisa mengambil hati masyarakat Jakarta dan akhirnya pada periode Gubernur Sutiyoso dibentu lah kelompok pendukung Persija dengan para pendukung nya adalah para pemuda-pemudayang disokong oleh organisasi pemuda pada saat itu dengan warna kebesaran oranye disini lah mulai perselisihan antara Persib dan Persija dimulai.
Fakta yang telah di buktikan persib pada perjalanan kompetisi nya menggangap pertandingan melawan persija hanya sebuah laga biasa karena pada masa itu persib lebih menakuti psms,persebaya,psm sebagai rivalitas nya, jadi mengapa saat ini pertandingan persija vs persib selalu menjadi rivalitas yang ramai di bicarakan??
Bila dipikirkan rivalitas Persija Vs Persib bukan lah konflik antara klub seperti Madrid Vs Barca atau Manchester United Vs Liverpool yang mempunyai nilai historis yang panjang dalan konflik klub tapi lebih kepada suporter kedua kubu yang ironisnya menjadi SARA antara Jakarta dan Bandung terlebih dengan di perkeruhnya perselisihan ini oleh media massa dan dijaga oleh sebagian orang agar rivalitas ini terus terjaga dan terus menghasilkan korban dan juga hal anarkis yang terus terjadi sampai saat ini, jadi pertanyaan nya apakah masih saling menyalahkan dan saling bermusuhan??Karena dulu pun Persib dan Persija selalu harmonis atau ingin menjaga rivalitas yang berujung anarkis yang menghasilkan sebuah rivatilas semu??

Sejarah Persib Bandung

Sebelum bernama Persib Bandung, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.
Atot pulalah yang tercatat sebagai Komisaris Daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan JatinegaraJakarta.
Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (sekarang Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatanpada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.
Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.
Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang-orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah-olah Persib merupakan perkumpulan "kelas dua". VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika itu sering dilakukan di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang di dalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota, UNI dan SIDOLIG.
Persib memenangkan "perang dingin" dan menjadi perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang, kegiatan persepak bolaan yang dinaungi organisasi dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga di seluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta.
Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. AlexaRd. Sugeng dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade 1950-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib diCilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.
Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun196119861990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950195919661983, dan 1985.
Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.
Sebagai tim yang dikenal baik, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Risnandar SoendoroNandar IskandarAdeng HudayaHeri KiswantoAjat SudrajatYusuf BachtiarDadang KurniaRobby DarwisBudimanNur'alimYaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib.Sampai saat ini Persib Bandung adalah tim Indonesia yang bisa di bilang paling dibanggakan oleh Indonesia karena prestasi dan kemampuannya